‹ Semua renungan

Selasa, 28 Desember 2027

Tangis di Rama

Di tengah lagu-lagu Natal yang riang, hari ini Gereja memasang nada duka. Kanak-kanak Suci: bayi-bayi Betlehem yang dibunuh Herodes karena satu Anak yang ditakutinya. Matius mengutip Yeremia: "Terdengarlah suara di Rama, tangis dan ratap yang amat sedih; Rahel menangisi anak-anaknya dan ia tidak mau dihibur."

Mengapa kisah sekelam ini ditaruh dalam oktaf Natal? Karena Injil tidak pernah berpura-pura dunia baik-baik saja. Sang Terang lahir di dunia di mana penguasa sanggup membunuh bayi demi kursinya. Natal bukan pelarian dari dunia yang gelap; Natal adalah masuknya terang ke dalamnya.

Kemarin Yohanes bersaksi tentang Firman hidup yang ia raba dengan tangannya. Hari ini suratnya melanjutkan: "Allah adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan." Kalimat itu ditulis bukan oleh orang naif, melainkan oleh saksi yang tahu persis betapa gelapnya dunia, dan tetap berani berkata: terang lebih kuat.

Bayi-bayi Betlehem tidak sempat mengucapkan apa-apa, tetapi Gereja menghormati mereka sebagai martir yang bersaksi bukan dengan kata melainkan dengan darah. Dan tangis Rahel masih terdengar hari ini di banyak tempat. Tugas kita bukan menutup telinga, melainkan ikut menjaga anak-anak yang lemah di sekitar kita.

Tuhan, hapuslah air mata para ibu yang berduka, dan jadikanlah aku pelindung bagi yang paling kecil. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →