Senin, 27 Desember 2027
Saksi Mata
Di pengadilan, kesaksian paling kuat bukan "katanya" melainkan "saya melihat sendiri". Kabar dari tangan kedua boleh diragukan. Tetapi orang yang berdiri dan berkata aku ada di sana, aku melihatnya dengan mata kepalaku, kesaksiannya berbobot lain.
Hari ini Gereja mengenang Yohanes, rasul yang dikasihi Yesus. Surat pertamanya dibuka seperti berita acara seorang saksi: "Apa yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup, itulah yang kami tuliskan kepada kamu." Dengar, lihat, raba. Tiga indera dipanggil bersaksi. Iman kristiani bukan dongeng indah; ia berdiri di atas orang-orang yang sungguh ada di sana.
Injil hari ini menunjukkan kadar kesaksian itu. Pagi Paskah, Yohanes berlari ke kubur, lebih cepat dari Petrus. Ia menjenguk, melihat kain kapan tergulung rapi, "dan ia melihatnya dan percaya." Kasih rupanya membuat orang berlari lebih cepat, dan melihat lebih dalam.
Dua hari setelah Natal, kita diingatkan: kabar ini sampai kepada kita lewat rantai saksi mata, dan tujuannya jelas kata Yohanes, "supaya sukacita kami menjadi sempurna." Kini giliran kita menjadi mata rantainya.
Tuhan, jadikanlah imanku kesaksian tangan pertama, bukan sekadar kabar warisan. Amin.