Minggu, 26 Desember 2027
Sehari Setelah Pesta
Sehari setelah pesta, biasanya yang tersisa adalah piring kotor dan sisa penganan. Suasana masih hangat, lagu-lagu masih terngiang. Maka terasa mengejutkan bahwa tepat sehari setelah Natal, dalam oktaf yang masih penuh sukacita, Gereja mengenang Stefanus: martir pertama, orang pertama yang dibunuh karena imannya kepada Kanak-kanak yang baru kita sambut kemarin.
Ini bukan salah susun jadwal. Gereja sengaja menaruh kisah palungan dan kisah batu berdampingan, supaya kita tidak salah paham tentang Natal. Anak yang lahir kemarin itu bukan hiasan musiman. Ia terang yang datang ke dalam gelap, dan gelap melawan.
Lukas melukiskan Stefanus dengan kata-kata yang bercahaya: penuh karunia dan kuasa, penuh hikmat, penuh Roh Kudus. Lawan-lawannya tidak sanggup membantah kata-katanya, maka mereka membungkam orangnya. Di tengah hujan batu, Stefanus menatap ke langit dan melihat Yesus berdiri di sebelah kanan Allah. Lalu ia mengucapkan dua doa yang persis menggemakan doa Gurunya di salib: terimalah rohku, dan janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka. Ia mati sambil mengampuni para pembunuhnya.
Kata martir berasal dari bahasa Yunani martys, artinya saksi. Aslinya ini istilah pengadilan: orang yang menceritakan apa yang sungguh dilihatnya. Stefanus disebut martir bukan pertama-tama karena ia mati, melainkan karena kesaksiannya begitu utuh sampai ia rela mati untuk itu. Darahnya pun tidak sia-sia. Di antara para penonton berdiri seorang muda bernama Saulus, menjaga jubah para pelempar. Kelak benih yang jatuh hari itu tumbuh menjadi Paulus.
Yesus sudah menyiapkan murid-murid-Nya untuk saat-saat seperti ini: kamu akan digiring ke muka para penguasa, tetapi jangan kuatir akan apa yang harus kamu katakan, "karena bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu." Janji itu terbukti pada Stefanus. Yang diminta dari seorang saksi bukan kepandaian bersilat kata, melainkan kesetiaan untuk tetap berdiri.
Kebanyakan kita tidak akan menghadapi hujan batu. Tetapi setiap orang beriman menghadapi ujian kesaksian versi hariannya: jujur ketika semua orang menyerong, tetap mengampuni ketika dendam lebih memuaskan, tetap mengaku percaya ketika iman ditertawakan. Natal memberi kita sukacita; Stefanus mengingatkan bahwa sukacita itu ada harganya, dan harganya layak dibayar.
Sehari setelah pesta, pertanyaan itu datang: sanggupkah kita menjadi saksi, bukan sekadar penonton?
Tuhan, Engkau lahir bagiku; jadikanlah aku saksi-Mu yang setia, bahkan ketika bersaksi itu mahal. Amin.