‹ Semua renungan

Sabtu, 25 Desember 2027

Allah Bertetangga

Perhatikan kata yang dipilih Yohanes untuk menceritakan Natal. Tidak ada palungan, tidak ada gembala, tidak ada bintang. Hanya satu kalimat yang mengguncang: "Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita." Diam di antara kita. Dalam bahasa aslinya, kata itu berarti memasang kemah. Allah membangun rumah-Nya di tengah perkampungan manusia.

Sederhananya: pada hari Natal, Allah menjadi tetangga.

Kita tahu artinya bertetangga. Tetangga bukan tamu yang datang sesekali lalu pulang. Tetangga mendengar bayi kita menangis tengah malam, mencium bau masakan kita, tahu kapan kita bertengkar, ikut repot ketika kita punya hajat, dan ikut berduka ketika rumah kita berkabung. Orang Jawa menyebut tetangga itu sedulur paling cedhak, saudara paling dekat. Justru karena dekatnya itu, bertetangga tidak bisa pura-pura.

Surat Ibrani melukiskan betapa jauhnya jarak yang ditempuh untuk kedekatan ini. Dahulu Allah berbicara dengan perantaraan para nabi: lewat utusan, lewat pesan, dari kejauhan. Kini Ia berbicara dengan perantaraan Anak-Nya, cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud-Nya sendiri. Bukan lagi kiriman pesan. Ia datang sendiri, pindah rumah ke kampung kita.

Dan Yohanes jujur mencatat sambutan yang Ia terima: "Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya." Tetangga baru itu ditolak warga. Tidak ada kamar bagi-Nya, dan kelak tidak ada tempat bagi-Nya kecuali salib. Namun terang itu terus bercahaya dalam kegelapan, "dan kegelapan itu tidak menguasainya." Gelap bisa menolak terang, tetapi tidak pernah bisa memadamkannya. Nyalakan satu lilin di ruangan paling gelap: gelapnya yang mundur, bukan lilinnya.

Yesaya menyebut betapa indahnya kaki pembawa kabar baik yang berlari di bukit-bukit mengabarkan damai. Hari ini kabar itu sampai ke ujung bumi, sampai ke rumah kita: Allahmu itu Raja, dan Raja itu kini tinggal sekampung dengan kita. Kepada semua yang menerima-Nya, kata Yohanes, diberi-Nya kuasa menjadi anak-anak Allah. Tetangga itu ingin menjadi keluarga.

Maka sukacita Natal punya arah yang jelas. Kalau Allah sudi bertetangga dengan manusia, kita tidak punya alasan untuk berjauhan dengan tetangga kita sendiri. Kado Natal yang paling sederhana mungkin bukan barang: menyapa yang lama tidak disapa, mengetuk pintu yang lama kita lewati, membuka pintu bagi yang selama ini kita biarkan di luar.

Selamat Natal. Sang Firman sudah pindah ke kampung kita. Jangan biarkan Ia jadi tetangga yang tidak pernah kita kunjungi.

Tuhan Yesus, Firman yang menjadi manusia, tinggallah di rumahku, dan jadikanlah aku tetangga yang baik seperti Engkau. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →