Jumat, 24 Desember 2027
Surya Pagi
Jam-jam paling gelap justru menjelang fajar. Orang yang pernah melewati malam tanpa tidur, entah menunggui orang sakit atau menunggu bus pertama, tahu rasanya: dingin paling menggigit dan sepi paling dalam datang tepat sebelum langit timur berubah warna.
Malam ini Gereja berada di jam-jam itu. Bacaan Injil terakhir sebelum Natal adalah nyanyian Zakharia. Kemarin mulutnya terbuka setelah sembilan bulan bisu; hari ini kita mendengar apa yang keluar pertama kali: pujian. Bukan keluhan tentang sembilan bulan yang hilang. Ia menyebut Mesias dengan gambaran yang indah: "Surya pagi dari tempat yang tinggi, untuk menyinari mereka yang diam dalam kegelapan dan dalam naungan maut."
Surya pagi tidak datang mendadak. Ia dijanjikan lama: kepada Abraham lewat sumpah, kepada Daud lewat nabi Natan, yang hari ini kita dengar berjanji bahwa takhta keturunan Daud kokoh selama-lamanya. Janji itu berjalan pelan melewati raja-raja, pembuangan, dan abad-abad sunyi. Malam memang panjang. Tetapi tidak ada malam yang berhasil membatalkan pagi. Fajar tidak pernah kalah; ia hanya menunggu gilirannya.
Bagi yang tahun ini melewati malam yang panjang: bertahanlah semalam lagi. Langit timur sudah mulai berubah warna.
Tuhan, Surya pagi, terbitlah atas segala gelapku, dan arahkanlah kakiku ke jalan damai sejahtera. Amin.