Kamis, 23 Desember 2027
Namanya Yohanes
Di kampung, memberi nama anak bisa jadi urusan satu keluarga besar. Nama kakek harus diturunkan, nama pakde harus dipertimbangkan. Nama adalah cara keluarga menitipkan harapan, kadang juga cara keluarga menggenggam kepemilikan atas masa depan anaknya.
Kemarin kita mendengar Maria melantunkan Magnificat di rumah Zakharia. Hari ini di rumah yang sama, bayi Elisabet lahir. Para tetangga dan sanak saudara datang, dan mereka sudah siap dengan nama: Zakharia, menurut nama bapanya. Tetapi Elisabet menolak: "Jangan, ia harus dinamai Yohanes." Semua protes: tidak ada sanak saudaramu yang bernama begitu. Lalu Zakharia yang bisu meminta batu tulis dan menulis: "Namanya adalah Yohanes." Seketika itu juga mulutnya terbuka.
Yohanes, dari bahasa Ibrani Yohanan, artinya Tuhan berbelas kasih. Anak ini memang bukan kelanjutan nama keluarga. Ia awal dari sesuatu yang baru, persis seperti kata Maleakhi tentang utusan yang mempersiapkan jalan bagi Tuhan. Sejak namanya saja, ia sudah menunjuk bukan kepada keluarganya, melainkan kepada Allah.
Kadang Allah memutus kebiasaan lama kita untuk memulai karya baru. Dan seperti Zakharia, mulut kita baru terbuka untuk memuji ketika kita berhenti memaksakan nama sendiri atas rencana-Nya.
Tuhan yang berbelas kasih, tuliskanlah nama-Mu atas rencanaku, bukan namaku atas rencana-Mu. Amin.