Rabu, 22 Desember 2027
Mengembalikan
Orang tua yang menanam pohon kelapa tahu satu hal: buahnya mungkin baru dipetik anak cucunya. Menanam memang pekerjaan melepaskan. Yang kita tanam tidak pernah sungguh-sungguh milik kita.
Hana bertahun-tahun berdoa meminta anak. Ketika Samuel akhirnya lahir, apa yang ia lakukan? Sesudah anak itu disapih, ia mengantarnya ke rumah TUHAN di Silo dan berkata: "Untuk mendapat anak inilah aku berdoa, dan TUHAN telah memberikan apa yang kuminta. Maka akupun menyerahkannya kepada TUHAN." Yang paling dirindukan justru yang paling rela dikembalikan. Waktu itu masih kecil betul kanak-kanak itu, catat Kitab Suci, seolah ikut terharu. Hana tidak kehilangan Samuel; ia justru menempatkannya di tangan yang paling aman.
Kemarin Elisabet berseru memberkati Maria. Hari ini Maria menjawab dengan Magnificat, dan nadanya persis nada doa Hana dahulu: jiwaku memuliakan Tuhan, sebab Ia memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Maria pun sedang belajar hal yang sama. Anak yang dikandungnya bukan miliknya. Sejak awal ia menyebut dirinya hamba, bukan pemilik. Di situlah damainya.
Kita menggenggam banyak hal: anak, jabatan, rencana, hidup itu sendiri. Adven mengingatkan bahwa semuanya titipan. Tangan yang berani mengembalikan ternyata tangan yang paling penuh.
Tuhan, segala yang kugenggam berasal dari-Mu. Ajarilah aku menggenggamnya dengan tangan terbuka. Amin.