‹ Semua renungan

Minggu, 19 Desember 2027

Doa yang Mengendap

Di dapur, ada masakan yang tidak bisa dipercepat. Gulai yang enak harus diungkep berjam-jam dengan api kecil. Tape harus diperam berhari-hari. Kalau tidak sabar dan apinya dibesarkan, hasilnya justru rusak. Ada rasa yang hanya bisa lahir dari waktu yang panjang. Waktu, dalam resep semacam itu, bukan musuh melainkan bumbu.

Bacaan-bacaan Minggu Adven terakhir ini mempertemukan kita dengan dua keluarga yang mengalami penantian panjang itu. Istri Manoah, yang bahkan tidak dicatat namanya, mandul dan tidak beranak. Elisabet dan Zakharia, keduanya benar di hadapan Allah, hidup tak bercacat, namun tidak punya anak sampai lanjut umur. Pada zaman itu, mandul bukan sekadar sedih. Itu aib yang dipikul di depan umum, bertahun-tahun, sambil terus beribadah kepada Allah yang seolah diam.

Lalu kepada dua rahim yang sudah dianggap tertutup itulah kabar datang. Istri Manoah akan melahirkan Simson, yang memulai penyelamatan Israel. Elisabet akan melahirkan Yohanes, yang menyiapkan jalan bagi Tuhan. Pola ini terlalu sering muncul dalam Kitab Suci untuk disebut kebetulan: Sara, Ribka, Rahel, Hana, dan kini Elisabet. Allah rupanya suka bekerja justru di tempat yang oleh manusia sudah dicap tidak mungkin.

Menarik memperhatikan Zakharia. Ia imam, sedang bertugas di Bait Suci, membakar ukupan di tempat kudus. Kalau ada orang yang mestinya siap menerima jawaban doa, dialah orangnya. Tetapi ketika Gabriel berkata doamu telah dikabulkan, ia justru menawar: bagaimana aku tahu? Aku sudah tua. Bertahun-tahun berdoa, dan ketika jawabannya tiba, ia tidak percaya jawabannya bisa tiba. Kita sering begitu. Berdoa lama sekali, lalu diam-diam berhenti berharap, dan tetap berdoa hanya karena kebiasaan. Bibir masih bergerak, hati sudah lama pulang.

Zakharia menjadi bisu sampai janji itu genap. Mungkin itu bukan sekadar hukuman. Mungkin itu retret yang dipaksakan: sembilan bulan diam, menyaksikan perut istrinya membesar, belajar bahwa Allah tidak pernah lupa walau lama. Diam kadang-kadang adalah ruang belajar yang paling jujur.

Enam hari menjelang Natal, bacaan ini bertanya kepada kita: doa mana yang sudah kita anggap hangus? Kerinduan mana yang sudah kita kubur karena terlalu lama tak terjawab? Elisabet menyebut anaknya "perbuatan Tuhan bagiku". Perbuatan itu diungkep lama sekali di api kecil. Tetapi ia matang tepat pada waktunya.

Tuhan, doaku yang lama belum Kaujawab kuletakkan kembali di altar-Mu. Aku percaya Engkau tidak pernah lupa. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →