Selasa, 14 Desember 2027
Iya, Nanti
Orang Jawa punya jawaban yang halus untuk menunda: nggih, mangke. Iya, nanti. Sopan di telinga, tetapi sering berarti tidak akan dikerjakan. Semua orang tua mengenal jawaban ini dari anak-anaknya, dan jujur saja, kita pun masih memakainya sampai dewasa.
Kemarin para imam kepala menjawab pertanyaan Yesus dengan "kami tidak tahu". Hari ini Yesus melanjutkan dengan perumpamaan yang menohok mereka. Dua anak disuruh bekerja di kebun anggur. Yang sulung menjawab manis, "Baik, bapa," tetapi tidak pergi. Yang kedua menjawab kasar, "Aku tidak mau," tetapi kemudian menyesal dan pergi juga. Siapa yang melakukan kehendak ayahnya? Semua tahu jawabannya.
Allah ternyata lebih menghargai penyesalan yang berjalan daripada kesopanan yang diam. Itulah sebabnya Yesus berkata para pemungut cukai dan perempuan sundal mendahului orang-orang saleh masuk Kerajaan Allah: mereka pernah berkata tidak dengan hidupnya, lalu berbalik sungguh-sungguh.
Hari ini Gereja mengenang Yohanes dari Salib, yang dipenjara oleh saudara-saudara serekannya sendiri, namun tetap berjalan dalam gelap sambil percaya. Iman baginya bukan kata-kata indah, melainkan langkah.
Kepada Tuhan, jawaban kita hari ini yang mana: iya yang diam, atau langkah yang sungguh?
Tuhan, ubahlah semua "iya nanti" dalam hidupku menjadi "iya" yang berangkat sekarang. Amin.