‹ Semua renungan

Minggu, 12 Desember 2027

Lilin Merah Muda

Di korona Adven ada satu lilin yang berbeda sendiri. Tiga lilin ungu, satu merah muda. Hari ini lilin merah muda itu dinyalakan. Gereja menyebut Minggu ini Gaudete: bersukacitalah. Di tengah musim yang berwarna tobat, Gereja sengaja menyelipkan satu hari berwarna gembira, seperti pendaki gunung yang berhenti sebentar untuk menoleh: lihat, puncaknya sudah kelihatan.

Tetapi sukacita macam apa yang dimaksud? Paulus menulis kepada jemaat Tesalonika dengan tiga perintah pendek beruntun: "Bersukacitalah senantiasa. Tetaplah berdoa. Mengucap syukurlah dalam segala hal." Perhatikan kata-katanya: senantiasa, tetap, segala hal. Berarti sukacita ini bukan suasana hati yang menunggu semua beres. Ini keputusan yang diambil justru ketika belum semua beres. Jemaat Tesalonika sedang ditekan dan dianiaya. Kepada merekalah kalimat itu ditujukan. Sukacita mereka tumbuh justru di tanah yang keras.

Yesaya memberi alasannya: "Roh Tuhan ada padaku, Ia mengutus aku menyampaikan kabar baik kepada orang sengsara, merawat orang yang remuk hati, memberitakan pembebasan kepada tawanan." Sukacita kristiani bukan karena keadaan sedang baik, melainkan karena Seseorang sedang datang. Seperti bumi memancarkan tumbuh-tumbuhan, kata Yesaya, demikian Tuhan menumbuhkan kebenaran. Benih sudah di dalam tanah. Belum kelihatan, tetapi sudah pasti. Musim tidak pernah ingkar janji.

Lalu Injil menampilkan teladan sukacita yang jarang kita sadari: Yohanes Pembaptis. Orang-orang dari Yerusalem datang bertanya, "Siapakah engkau?" Tiga kali ia menjawab bukan. Bukan Mesias. Bukan Elia. Bukan nabi yang dinanti. Ia hanya suara di padang gurun. Bahkan membuka tali kasut Dia yang datang pun ia merasa tidak layak.

Di sinilah rahasianya. Yohanes tahu persis dirinya bukan pusat, dan justru itu membuatnya merdeka. Orang yang merasa dirinya harus menjadi matahari akan lelah dan mudah tersinggung. Orang yang tahu dirinya hanya saksi terang bisa bergembira dengan tenang. Sukacita paling awet ternyata milik orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri.

Maka Minggu Gaudete ini menawarkan dua latihan. Pertama, memilih bersyukur dalam keadaan yang belum beres, sebab syukur adalah bahasa ibu sukacita. Kedua, berhenti menjadikan diri pusat, sebab pusat itu sudah ada dan sedang datang. Lilin merah muda hanya satu di antara empat, kecil dan sebentar. Tetapi nyalanya cukup untuk mengingatkan: penantian ini berujung pesta, bukan pemeriksaan.

Tuhan, ajarilah aku bersukacita seperti Yohanes: tahu diri bukan terang, namun gembira menyaksikan terang-Mu datang. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →