Jumat, 10 Desember 2027
Serba Salah
Ada orang yang tidak bisa dipuaskan. Masakan asin sedikit, protes. Dikurangi garamnya, katanya hambar. Diundang, tidak datang. Tidak diundang, tersinggung. Menghadapi orang seperti ini, apa pun serba salah.
Kemarin Yesus memuji Yohanes Pembaptis sebagai yang terbesar di antara mereka yang dilahirkan perempuan. Hari ini Ia meneruskan bicara-Nya dengan nada getir. Angkatan ini seperti anak-anak di pasar yang merajuk: kami meniup seruling, kamu tidak menari; kami menyanyikan kidung duka, kamu tidak berkabung. Yohanes datang berpuasa, dibilang kerasukan setan. Anak Manusia datang makan dan minum, dibilang pelahap dan peminum.
Masalahnya bukan pada seruling atau kidungnya. Masalahnya pada hati yang memang sudah memutuskan untuk menolak. Hati semacam itu selalu menemukan alasan. Terlalu keras, terlalu lunak. Terlalu cepat, terlalu lambat. Nada seruling bisa diganti seribu kali; hati yang sudah menolak akan tetap menemukan cacatnya.
Yesaya menyuarakan sesal Allah: "Sekiranya engkau memperhatikan perintah-perintah-Ku, maka damai sejahteramu akan seperti sungai yang tidak pernah kering." Sungai itu masih ditawarkan. Pertanyaannya jujur saja: jangan-jangan selama ini bukan Tuhan yang kurang jelas berbicara, melainkan kita yang sudah siap dengan seribu alasan.
Tuhan, bongkarlah alasan-alasanku, supaya damai-Mu mengalir seperti sungai yang tak pernah kering. Amin.