Senin, 29 November 2027
Kalimat Sebelum Komuni
Setiap Misa, menjelang komuni, seluruh gereja mengucapkan kalimat yang sama: ya Tuhan, saya tidak pantas Engkau datang pada saya, tetapi bersabdalah saja, maka saya akan sembuh. Pernahkah kita bertanya dari mana asal kalimat itu?
Asalnya bukan dari seorang rahib atau teolog besar. Ia lahir dari mulut seorang tentara Romawi di Kapernaum, orang asing di mata Israel. Perwira itu memohon kesembuhan bagi hambanya, tetapi menolak dikunjungi: Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku; katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.
Yesus heran. Injil jarang sekali mencatat Yesus heran, dan kali ini Ia heran karena kagum: iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel. Iman yang besar, ternyata, berpasangan dengan kerendahan hati yang besar. Perwira itu tahu dirinya tidak layak, dan justru karena itu ia bersandar penuh pada kuasa sabda.
Di awal Adven ini Yesaya melukis arah penantian kita: segala bangsa berduyun-duyun ke gunung Tuhan, pedang ditempa menjadi mata bajak. Dunia yang damai itu dimulai dari sikap si perwira: mengaku tidak layak, namun percaya sepatah sabda-Nya cukup.
Kalimat itu akan kita ucapkan lagi di Misa berikutnya. Beranikah kita mengucapkannya dengan sadar, bukan sekadar hafal?
Tuhan, saya tidak pantas Engkau datang pada saya. Tetapi bersabdalah saja, maka jiwaku akan sembuh. Amin.