Minggu, 28 November 2027
Yang Berjaga di Gardu
Di kampung-kampung dulu ada tradisi ronda. Sementara seisi kampung tidur, beberapa orang duduk di gardu, menahan kantuk, memukul kentongan setiap jam. Kampung aman bukan karena semua orang terjaga, melainkan karena ada yang berjaga. Kentongan itu bukan hiburan; ia tanda bahwa ada mata yang rela tidak tidur demi yang lain.
Hari ini tahun baru Gereja dimulai. Anehnya, ia dibuka bukan dengan pesta, melainkan dengan perintah jaga malam: hati-hatilah dan berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu bilamanakah waktunya tiba. Kata Adven sendiri berasal dari bahasa Latin adventus, artinya kedatangan. Empat pekan ke depan adalah latihan menantikan Dia yang datang: datang di Betlehem dahulu, datang dalam rahmat setiap hari, dan datang dalam kemuliaan kelak.
Yesaya mengajari kita nada penantian itu. Doanya jujur, nyaris nekat: Ya Tuhan, Engkau sendiri Bapa kami; mengapa Engkau biarkan kami sesat dari jalan-Mu? Umat yang merasa Allah menyembunyikan wajah-Nya tidak berpura-pura baik-baik saja. Mereka mengaku apa adanya: kami layu seperti daun, kesalehan kami seperti kain kotor. Adven yang sejati dimulai dari kejujuran semacam ini: kami tidak sanggup sendiri; kami butuh Engkau datang.
Injil memberi perumpamaan tentang tuan rumah yang bepergian. Ia menyerahkan tanggung jawab kepada hamba-hambanya, masing-masing dengan tugasnya, dan memerintahkan penunggu pintu supaya berjaga. Menarik sekali: berjaga di sini bukan duduk melamun menatap jalan. Berjaga artinya mengerjakan tugas masing-masing sedemikian rupa sehingga kapan pun tuan itu pulang, ia mendapati rumah dalam keadaan baik. Berjaga bukan kegiatan tambahan di luar hidup harian, melainkan cara mengerjakan hidup harian itu sendiri. Ibu yang setia di dapurnya sedang berjaga. Pegawai yang jujur di mejanya sedang berjaga. Murid yang tekun di bangkunya sedang berjaga.
Paulus menambahkan alas yang menenangkan bagi jemaat Korintus: kamu tidak kekurangan dalam suatu karunia pun sementara kamu menantikan penyataan Tuhan kita Yesus Kristus; dan Allah, yang memanggil kamu, adalah setia. Penantian kita tidak bertepuk sebelah tangan. Dia yang kita nanti-nantikan itu justru lebih dahulu merindukan kita. Kesetiaan-Nya itulah yang membuat kantuk kita di gardu tidak pernah sia-sia.
Empat pekan ke depan adalah giliran kita duduk di gardu. Kalau Ia datang malam ini, sedang mengerjakan apa kita ingin didapati-Nya?
Tuhan yang datang, jagalah aku tetap terjaga: setia pada tugasku, jujur tentang kebutuhanku akan Dikau, dan rindu menyambut-Mu. Amin.