Minggu, 21 November 2027
Raja yang Terikat Tangannya
Bayangan kita tentang raja hampir seragam: singgasana, mahkota, pengawal berlapis, titah yang tidak boleh dibantah. Orang Jawa mengenal ungkapan sabda pandhita ratu: ucapan raja pantang ditarik kembali; sekali diucapkan, jadilah.
Hari ini, pada Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam, Gereja justru memajang gambar yang janggal: seorang tahanan berdiri di hadapan Pilatus. Pilatus punya pasukan, gedung pengadilan, dan wewenang menjatuhkan hukuman mati. Yesus tidak membawa apa-apa. Lalu siapa sebenarnya raja di ruangan itu?
Perhatikan siapa yang gelisah bertanya dan siapa yang tenang menjawab. Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini, kata Yesus. Kerajaan-Nya tidak ditopang pedang; seandainya ditopang pedang, hamba-hamba-Nya pasti sudah melawan. Kerajaan-Nya ditopang kebenaran: untuk itulah Aku lahir, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran. Pilatus punya kuasa memaksa tubuh. Yesus punya kebenaran yang memerdekakan hati. Dan sejarah membuktikan mana yang lebih awet: kekaisaran Roma kini tinggal reruntuhan yang dikunjungi turis, sedangkan sabda tahanan itu masih dibacakan di seluruh dunia setiap hari.
Daniel sudah melihatnya dari jauh: seorang seperti anak manusia datang dengan awan-awan dari langit, diberi kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap. Kerajaan-kerajaan dunia datang silih berganti; museum-museum kita penuh mahkota bekas. Kerajaan yang satu ini tidak meninggalkan mahkota bekas, sebab tidak pernah berakhir.
Kitab Wahyu menambahkan hal yang mengejutkan: Raja itu telah membuat kita menjadi suatu kerajaan, menjadi imam-imam bagi Allah. Kita bukan penonton di pinggir jalan yang melambai ketika iring-iringan lewat. Kita diangkat masuk ke dalam pemerintahan-Nya. Setiap kali kebenaran kita pilih walau merugikan, setiap kali kasih menang atas dendam, setiap kali yang lemah dibela, di situ pemerintahan-Nya sedang berlaku di bumi. Takhta-Nya tidak berdiri di ibu kota mana pun; takhta-Nya berdiri di hati yang taat.
Hari ini tahun liturgi tiba di halaman terakhirnya. Pekan depan Adven dimulai, dan Gereja kembali ke awal: menantikan kedatangan-Nya. Sebelum halaman ini ditutup, baiklah kita jujur menjawab satu pertanyaan: selama setahun ini, siapa yang sesungguhnya bertakhta atas keputusan-keputusan kita? Uang? Rasa takut? Gengsi? Atau Raja yang tangan-Nya terikat itu? Jawaban yang jujur atas pertanyaan itu adalah persembahan terbaik di penghujung tahun.
Yesus, Raja semesta alam, rajailah hatiku. Jadikan aku warga kerajaan-Mu yang setia kepada kebenaran, hari ini dan sampai Engkau datang. Amin.