Kamis, 18 November 2027
Air Mata di Atas Kota
Cobalah sesekali memandang kota dari tempat tinggi menjelang malam. Lampu-lampu menyala satu demi satu. Indah, tapi juga menyimpan tanya: berapa banyak cerita, luka, dan harapan yang sedang berlangsung di bawah sana?
Kemarin kita mendengar Yesus meneruskan perjalanan-Nya ke Yerusalem. Hari ini Ia tiba di dekat kota itu, memandangnya, dan menangis. Bukan menegur. Bukan mengutuk. Menangis. Wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu!
Alasan tangisan itu dipadatkan dalam satu kalimat: engkau tidak mengetahui saat, bilamana Allah melawat engkau. Allah datang melawat, dan kota itu sedang sibuk. Lawatan Allah memang jarang berupa iring-iringan kebesaran. Lebih sering ia menyamar dalam hal biasa: teguran seorang teman, sakit yang memaksa kita berhenti, ayat yang tiba-tiba menusuk hati. Ia datang menyamar, dan penyamaran-Nya sering terlalu sederhana untuk mata kita yang sibuk.
Yesus yang sama masih melawat kota-kota kita, rumah-rumah kita, hari-hari kita. Pertanyaannya bukan apakah Ia datang. Pertanyaannya: apakah kita sedang ada di rumah ketika Ia mengetuk?
Jangan-jangan lawatan-Nya hari ini sudah terjadi, dan kita menyebutnya kebetulan.
Tuhan, jangan biarkan aku melewatkan lawatan-Mu. Beri aku hati yang peka mengenali Engkau dalam peristiwa hari ini. Amin.