Rabu, 17 November 2027
Bahasa Ibu
Kemarin kita menatap Eleazar, orang tua yang menolak berpura-pura. Hari ini panggung yang sama diisi seorang ibu dan tujuh anaknya.
Ibu itu menyaksikan ketujuh anaknya disiksa dan dibunuh dalam satu hari, karena setia kepada hukum Allah. Yang mengagumkan: ia tidak membujuk mereka menyerah. Ia malah menguatkan mereka satu per satu, dan kitab itu mencatat detail yang menyentuh: dalam bahasanya sendiri. Bahasa ibu. Bahasa yang dulu dipakainya menidurkan mereka, kini dipakainya mengantar mereka kepada hidup kekal.
Dari mana ibu ini menimba kekuatan sebesar itu? Dari imannya akan Sang Pencipta. Bukan akulah yang memberi kepadamu nafas dan hidup, katanya; Pencipta alam semesta akan memberikan kembali roh dan hidup kepada kamu. Ia berani melepas karena percaya ada Tangan yang menerima.
Hari ini Gereja mengenang Santa Elisabet dari Hungaria, putri raja yang memilih hidup sederhana, melayani orang miskin, dan wafat pada usia sangat muda. Perempuan-perempuan ini mengingatkan kita: iman paling sering diwariskan bukan lewat mimbar, melainkan lewat suara ibu di rumah.
Warisan iman apa yang sedang kita ucapkan, hari demi hari, kepada anak-anak di sekitar kita?
Tuhan, terima kasih untuk para ibu yang menanamkan iman. Jadikan kata-kataku di rumah menjadi bahasa yang mengantar orang kepada-Mu. Amin.