Selasa, 16 November 2027
Cuma Pura-Pura
Cuma pura-pura, apa salahnya? Kalimat ini terdengar di mana-mana. Pura-pura setuju supaya aman. Pura-pura tidak tahu supaya tidak repot. Kecil saja, katanya. Tidak ada yang dirugikan, katanya.
Eleazar, ahli Taurat berumur sembilan puluh tahun, ditawari jalan pura-pura itu. Ia cukup berlagak makan daging korban, nyawanya selamat, para sahabatnya pun lega. Ia menolak. Alasannya bukan gengsi orang tua: supaya janganlah banyak pemuda kusesatkan, karena mereka menyangka Eleazar yang sembilan puluh tahun beralih kepada tata cara asing.
Ia sadar ada mata-mata muda yang menonton hidupnya. Integritas, baginya, bukan urusan pribadi. Sisa hidupnya yang tinggal sedikit itu ia pertaruhkan demi teladan yang jauh lebih panjang umurnya daripada dirinya. Sebab teladan tidak mengenal pensiun; ia terus mengajar lama sesudah gurunya tiada.
Injil hari ini masih di Yerikho. Kemarin pengemis buta di pinggir jalan; sekarang Zakheus yang memanjat pohon ara. Dua-duanya tidak malu terlihat sungguh-sungguh mencari Yesus. Dan keduanya menerima keselamatan. Keselamatan memang tidak pernah datang lewat pura-pura.
Di bagian hidup yang mana kita masih memainkan sandiwara kecil itu?
Tuhan, jadikanlah aku utuh: sama di dalam dan di luar, di depan orang maupun dalam sepi. Amin.