Rabu, 10 November 2027
Satu yang Kembali
Sejak kecil kita diajari dua ucapan sakti: minta tolong dan terima kasih. Orang Jawa mengenalnya sebagai matur nuwun. Anehnya, makin dewasa kita makin pandai meminta, dan makin jarang kembali untuk berterima kasih.
Sepuluh orang kusta berdiri dari jauh dan berteriak minta dikasihani. Sepuluh-sepuluhnya disembuhkan di tengah jalan. Yang kembali hanya satu, dan dia justru orang Samaria, orang asing. Yang paling tidak diperhitungkan ternyata yang paling tahu berterima kasih. Pertanyaan Yesus terasa perih sampai hari ini: di manakah yang sembilan orang itu?
Sembilan itu tidak jahat. Mereka taat, pergi memperlihatkan diri kepada para imam persis seperti disuruh. Tapi bagi mereka kesembuhan berhenti di kulit. Yang satu itu pulang dengan suara nyaring memuliakan Allah, tersungkur, bersyukur. Dan ia menerima lebih dari kulit yang tahir: imanmu telah menyelamatkan engkau. Syukur ternyata menyempurnakan kesembuhan menjadi keselamatan.
Hari ini Gereja mengenang Santo Leo Agung, paus yang dengan suaranya menghadang Attila di depan gerbang Roma. Suara memang bisa menyelamatkan; termasuk suara syukur yang kita naikkan kepada Allah.
Dari sepuluh berkat pekan ini, berapa yang membuat kita sungguh kembali kepada-Nya?
Tuhan, sembuhkanlah bukan hanya tubuhku, tetapi juga ingatanku, agar aku selalu kembali untuk bersyukur. Amin.