Minggu, 7 November 2027
Segenggam Tepung Terakhir
Setiap dapur punya saat gentingnya: beras tinggal segelas, minyak tinggal sedikit, sementara tanggal gajian masih jauh. Ibu-ibu tahu betul rasanya menakar persediaan terakhir. Di titik itu, memberi kepada orang lain terdengar seperti kemewahan yang mustahil.
Persis di titik itulah janda Sarfat berdiri. Tepung tinggal segenggam, minyak tinggal sedikit, dan rencananya sudah bulat: mengolah yang terakhir, makan bersama anaknya, lalu menunggu mati. Datanglah Elia dengan permintaan yang kedengarannya kelewatan: buatlah lebih dahulu bagiku sepotong roti kecil. Anehnya, janda itu memberi. Dan tepung dalam tempayan tidak habis, minyak dalam buli-buli tidak berkurang. Yang habis justru ketakutannya.
Minggu lalu kita mendengar hukum yang terutama: mengasihi Allah dengan segenap hati dan sesama seperti diri sendiri. Hari ini kita melihat wajah hukum itu pada dua janda. Janda kedua berdiri di Bait Allah, memasukkan dua peser ke peti persembahan. Uang sekecil itu nyaris tidak berbunyi. Tapi Yesus memanggil murid-murid-Nya khusus untuk peristiwa itu: janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang.
Lebih banyak? Bukankah orang kaya tadi memberi berlipat-lipat? Di sinilah matematika Allah berbeda dengan matematika kita. Kita mengukur pemberian dari berapa yang keluar. Allah mengukurnya dari berapa yang tersisa. Orang kaya memberi dari kelimpahan; sisanya masih bergunung. Janda itu memberi dari kekurangan; sisanya nol, kecuali satu hal yang tidak kelihatan: percaya bahwa Allah memelihara. Timbangan kita berhenti pada angka; timbangan Allah menembus sampai ke hati.
Bacaan kedua memuncakkan semuanya. Kristus tidak mempersembahkan sesuatu dari kelimpahan yang aman; Ia mempersembahkan diri-Nya sendiri, satu kali untuk selama-lamanya. Dua janda itu, tanpa mereka sadari, adalah gema kecil dari korban yang besar itu. Mereka memberi seluruh nafkah; Ia memberi seluruh hidup.
Kita umumnya memberi dari sisa. Sisa uang, sisa waktu, sisa tenaga setelah semua kepentingan sendiri terpenuhi. Tidak salah, tapi bacaan hari ini mengusik: pernahkah sekali saja kita memberi sesuatu yang sebenarnya kita perlukan sendiri? Di situlah iman mulai terasa: ketika pemberian kita menyentuh rasa aman kita. Janda Sarfat tidak menunggu tepungnya sekarung dulu baru berbagi. Justru dari segenggam itulah mukjizat dimulai.
Pekan ini, beranikah kita memberi satu hal yang bukan sisa?
Tuhan, Engkau memberi bukan dari kelimpahan, melainkan seluruh diri-Mu. Ajarilah aku memberi seperti janda itu: sederhana, sepenuhnya, sambil percaya Engkau memelihara. Amin.