Jumat, 5 November 2027
Gesit untuk Apa
Lihatlah pedagang pasar subuh. Jam tiga pagi sudah menata dagangan. Hafal harga yang naik turun, tahu kapan menahan barang, kapan melepasnya. Untuk urusan rezeki, manusia bisa luar biasa gesit.
Kemarin kita mendengar sukacita Allah atas yang hilang dan ditemukan. Hari ini nadanya berubah: Yesus bercerita tentang bendahara yang ketahuan curang. Bukannya panik, ia berpikir cepat, memanggil para penghutang, memangkas surat hutang mereka, menyiapkan tempat berlabuh setelah dipecat. Lalu muncul kalimat yang mengejutkan: tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu. Lho, kok dipuji?
Yang dipuji bukan curangnya. Yang dipuji cerdiknya. Lalu Yesus menyindir kita: anak-anak dunia lebih cerdik daripada anak-anak terang. Untuk kontrak kerja kita membaca pasal demi pasal dengan teliti. Untuk hidup kekal? Sering seadanya. Doa dititipkan pada sisa kantuk, derma dititipkan pada sisa belanja.
Bacaan pertama menunjukkan arah yang benar: Paulus yang gesit bagi Injil, merancang perjalanan sampai Ilirikum, memilih ladang yang belum digarap orang lain. Kecerdikan yang sama, alamatnya yang berbeda.
Seandainya kita mengurus iman segesit mengurus dagangan, seperti apa kiranya hidup kita hari ini?
Tuhan, arahkan kecerdikanku. Jangan biarkan aku pintar hanya untuk yang fana, dan lamban untuk yang kekal. Amin.