Sabtu, 30 Oktober 2027
Ojo Dumeh
Di pesta pernikahan kampung, ada seni memilih kursi. Tamu biasa yang nekat duduk di kursi keluarga akan mengalami saat yang canggung: dipersilakan pindah, disaksikan semua orang. Sebaliknya, sesepuh yang duduk di belakang pasti dijemput panitia ke depan. Orang tua kita merangkumnya dalam dua kata: ojo dumeh. Jangan mentang-mentang.
Yesus rupanya jeli mengamati pesta. Di rumah seorang Farisi, Ia melihat tamu-tamu berebut tempat kehormatan. Maka Ia memberi nasihat yang terdengar seperti siasat sosial: kalau diundang, duduklah di tempat yang paling rendah, supaya tuan rumah datang dan berkata, sahabat, silakan duduk di depan.
Tetapi ini bukan sekadar tata krama pesta. Kalimat penutup-Nya membuka lapisan dalamnya: barangsiapa meninggikan diri akan direndahkan, dan barangsiapa merendahkan diri akan ditinggikan. Itulah hukum Kerajaan Allah. Di hadapan Allah, tidak seorang pun pantas duduk di depan karena jasanya. Semua adalah undangan; tempat kita pemberian, bukan rebutan.
Paulus dalam bacaan pertama menasihati jemaat Roma agar tidak menganggap diri pandai atas Israel, sebab Allah tidak menyesali kasih karunia dan panggilan-Nya. Rendah hati bukan berarti rendah diri; ia hanya tahu diri di hadapan kasih karunia.
Di kursi mana kita biasa menempatkan diri: di depan menurut perasaan kita, atau di tempat yang disediakan Tuhan?
Tuhan, ajarilah aku duduk dengan tahu diri, dan biarlah Engkau sendiri yang menentukan tempatku. Amin.