Jumat, 29 Oktober 2027
Mereka Diam Semuanya
Ada dua macam diam. Diam karena tidak tahu, dan diam karena tahu tetapi tidak mau mengakui. Yang kedua ini yang paling berat. Di ruang rapat, di meja makan keluarga, kita mengenalinya: pertanyaan jujur dilempar, semua menunduk memandang meja.
Yesus makan di rumah seorang pemimpin Farisi. Semua yang hadir mengamat-amati Dia. Lalu datang seorang yang sakit busung air. Yesus bertanya terbuka: diperbolehkankah menyembuhkan orang pada hari Sabat atau tidak? Lukas mencatat pendek: mereka itu diam semuanya. Mereka tahu jawabannya. Belas kasihan jelas tidak mungkin dilarang Allah. Tetapi mengakuinya berarti kalah, maka mereka memilih bungkam.
Yesus tidak menunggu suara. Ia memegang tangan orang sakit itu, menyembuhkannya, menyuruhnya pergi. Lalu satu pertanyaan lagi: siapa yang tidak segera menarik anaknya atau lembunya yang terperosok ke dalam sumur, meskipun pada hari Sabat? Sekali lagi hening. Mereka tidak sanggup membantah, tetapi juga tidak mau mengamini.
Betapa sering iman kita macet bukan karena kurang pengetahuan, melainkan karena gengsi. Kita tahu harus minta maaf, tahu harus menolong, tahu harus berubah. Kita hanya tidak mau kalah.
Kebenaran apa yang sedang kita diamkan hari-hari ini?
Tuhan, bebaskanlah aku dari diam yang gengsi. Berilah aku hati yang berani mengamini kebenaran-Mu. Amin.