Kamis, 28 Oktober 2027
Batu yang Tak Kelihatan
Bagian rumah yang paling menentukan justru tidak pernah dilihat tamu: fondasi. Tidak dicat, tidak dipajang, terkubur tanah. Tetapi seluruh bangunan berdiri di atasnya. Rumah boleh berganti genteng dan warna, fondasi harus tetap.
Hari ini Gereja merayakan pesta dua rasul yang mirip fondasi: Simon orang Zelot dan Yudas anak Yakobus. Coba ingat-ingat, kisah apa yang kita tahu tentang mereka? Hampir tidak ada. Tidak ada catatan khotbahnya, tidak ada kisah mukjizatnya dalam Injil. Nama mereka hanya muncul dalam daftar. Tetapi justru di daftar itu mereka setia berdiri, dari pemilihan di bukit sampai wafat sebagai saksi iman.
Surat Efesus melukiskannya dengan indah: kamu bukan lagi orang asing, melainkan anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru. Gereja yang kita huni hari ini berdiri di atas kesetiaan orang-orang yang namanya nyaris tak dikenang.
Injil mencatat bahwa sebelum memilih mereka, Yesus semalam-malaman berdoa. Simon dan Yudas bukan pilihan asal-asalan. Demikian pula kita, dengan segala ketidakterkenalan kita.
Tidak semua orang dipanggil menjadi menara. Sebagian dipanggil menjadi fondasi. Bersediakah kita setia tanpa dilihat?
Tuhan, jadikan aku batu kecil yang setia dalam bangunan-Mu, walau tak seorang pun melihatnya. Amin.