Rabu, 20 Oktober 2027
Barang Titipan
Dititipi itu berbeda rasanya dengan memiliki. Motor sendiri boleh dipakai sesukanya; motor titipan tetangga dirawat lebih hati-hati, sebab suatu hari pemiliknya datang mengambil. Titipan selalu menyimpan satu kepastian: akan diminta kembali.
Kemarin kita mendengar tentang hamba yang berjaga menanti tuannya. Hari ini Petrus bertanya: perumpamaan itu untuk kami atau untuk semua orang? Yesus menjawab dengan gambaran baru: pengurus rumah yang dipercaya mengatur para hamba dan membagikan makanan pada waktunya. Bukan pemilik. Pengurus. Bedanya jauh.
Lalu jatuhlah kalimat yang layak digantung di dinding hati: setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut. Hidup, waktu, kesehatan, kepandaian, jabatan, anak-anak, bahkan iman. Semuanya titipan. Kita sering keliru menyebutnya milik, lalu memakainya sesuka hati, seperti hamba jahat yang berkata dalam hatinya: tuanku tidak datang-datang.
Paulus memakai bahasa yang mirip: serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah sebagai senjata kebenaran. Tangan, lidah, mata, semuanya alat titipan yang bisa dipakai untuk melukai atau memberkati.
Coba hitung sebentar: dari sekian banyak yang dititipkan kepada kita, mana yang paling jarang kita pertanggungjawabkan?
Tuhan, semua yang ada padaku adalah milik-Mu. Jadikan aku pengurus yang setia sampai Engkau datang. Amin.