‹ Semua renungan

Selasa, 19 Oktober 2027

Lampu Teras

Di kampung, rumah yang anggotanya belum pulang mudah dikenali: lampu terasnya menyala sampai larut. Ibu belum bisa tidur nyenyak sebelum semua anaknya masuk rumah. Lampu itu bukan sekadar penerang. Ia bahasa penantian.

Yesus hari ini memakai bahasa yang sama: hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala. Seperti hamba yang menanti tuannya pulang dari pesta, tidak tahu jam berapa, tetapi tetap terjaga, supaya begitu pintu diketuk, segera dibuka. Bisa tengah malam, bisa dini hari. Yang menanti tidak memilih jam.

Lalu datang kejutan yang membalik segalanya. Tuan yang mendapati hambanya berjaga-jaga itu justru akan mengikat pinggangnya sendiri, mempersilakan mereka duduk makan, dan datang melayani mereka. Tuan mana di dunia ini yang berbuat begitu? Tidak ada. Hanya Tuhan kita. Penantian kita dibalas bukan dengan upah, melainkan dengan jamuan; bukan dengan perintah baru, melainkan dengan pelayanan-Nya sendiri.

Berjaga-jaga karena itu bukan hidup dalam ketakutan, melainkan hidup dalam kerinduan. Orang takut menunggu pemeriksa; orang rindu menunggu kekasih. Iman yang berjaga adalah iman yang rindu.

Masihkah pelita kerinduan kita menyala, atau sudah lama redup tertiup kesibukan?

Tuhan, jagalah pelitaku tetap menyala, agar kapan pun Engkau mengetuk, aku membuka pintu dengan sukacita. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →