‹ Semua renungan

Minggu, 17 Oktober 2027

Rebutan Kursi

Permainan anak-anak yang paling jujur menggambarkan dunia orang dewasa barangkali rebutan kursi. Musik berbunyi, semua berputar, dan begitu musik berhenti, yang lamban tersingkir. Kursi selalu kurang satu. Sejak kecil kita dilatih percaya: tempat itu terbatas, maka rebutlah.

Yakobus dan Yohanes rupanya memainkan permainan yang sama. Mereka mendekati Yesus dengan permintaan yang terdengar seperti anak merajuk: kabulkanlah permintaan kami. Kursi kanan dan kursi kiri dalam kemuliaan-Mu. Minggu lalu seorang muda yang kaya tidak sanggup melepas hartanya; kedua bersaudara ini sudah melepas jala dan perahu, tetapi masih menggenggam sesuatu yang lebih halus: ambisi. Harta bisa ditinggalkan di pantai, keinginan naik pangkat ikut ke mana-mana.

Sepuluh murid lain marah. Jangan buru-buru menyangka mereka lebih suci; bisa jadi mereka hanya kesal karena didahului. Maka Yesus mengumpulkan semuanya dan membalik papan permainan: pemerintah bangsa-bangsa memerintah dengan tangan besi, tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar, hendaklah ia menjadi pelayan. Di dunia, orang besar dilayani banyak orang. Dalam Kerajaan Allah, orang besar melayani banyak orang. Arusnya dibalik seratus delapan puluh derajat.

Dan Yesus tidak sekadar berteori. Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang. Yesaya sudah melukisnya berabad-abad sebelumnya: hamba yang remuk oleh kesakitan, yang memikul kejahatan banyak orang. Kursi yang dipilih Yesus bukan singgasana, melainkan kayu salib. Dan di kanan kiri-Nya kelak bukan Yakobus dan Yohanes, melainkan dua penjahat.

Kebesaran macam itu sebenarnya sudah kita kenal di rumah. Ibu yang bangun paling pagi dan makan paling akhir. Ayah yang diam-diam menahan lelah demi sekolah anaknya. Katekis kampung yang berjalan jauh tanpa dibayar. Mereka tidak pernah duduk di kursi utama, tetapi merekalah yang paling besar menurut ukuran Injil.

Surat Ibrani menyebut-Nya Imam Besar yang dapat turut merasakan kelemahan kita. Pemimpin macam itu langka: yang tahu rasanya lapar, lelah, dikhianati, takut. Karena itu kita boleh menghampiri takhta kasih karunia dengan penuh keberanian. Takhta itu tidak dijaga protokol.

Pekan ini, di rumah, di tempat kerja, di lingkungan gereja, kursi mana yang sedang kita incar? Dan tugas melayani mana yang sedang kita hindari? Jawaban kedua pertanyaan itu biasanya berkaitan erat.

Tuhan Yesus, Engkau memilih salib dan bukan takhta. Sembuhkanlah hasratku akan kursi, dan gerakkanlah tanganku untuk melayani. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →