Kamis, 14 Oktober 2027
Membangun Makam Nabi
Bangsa kita pandai membangun tugu. Pahlawan yang dulu dikejar-kejar, sesudah wafat diberi patung, nama jalan, dan upacara tahunan. Menghormati orang mati memang jauh lebih mudah daripada mendengarkan orang hidup. Orang mati tidak lagi menegur kita.
Kemarin kita mendengar Yesus menegur para Farisi dan ahli Taurat. Hari ini teguran itu sampai ke puncaknya: kamu membangun makam nabi-nabi, padahal nenek moyangmu yang membunuh mereka. Mereka memugar makam sambil meneruskan sikap yang sama: menolak nabi yang masih bersuara. Bahkan sesudah itu mereka terus mengintai Yesus, memancing-mancing ucapan-Nya. Nabi yang hidup itu pun akan mereka singkirkan.
Kita bisa jatuh pada pola serupa. Mengagumi para kudus, memajang salib, hafal kisah para martir, tetapi gerah ketika firman menyentuh hidup kita hari ini. Iman yang hanya memugar masa lalu adalah makam yang indah.
Bacaan pertama menawarkan jalan keluarnya: kita dibenarkan bukan karena bangunan jasa kita, melainkan oleh kasih karunia, dengan cuma-cuma, karena penebusan dalam Kristus. Tidak ada dasar untuk bermegah. Yang ada hanya dasar untuk bersyukur, dan syukur itu tampak dari kesediaan ditegur.
Nabi mana yang sedang bersuara dalam hidup kita, dan pelan-pelan kita bungkam?
Tuhan, jangan biarkan imanku menjadi tugu yang bisu. Jadikan aku pendengar nabi-nabi-Mu yang masih hidup. Amin.