Selasa, 5 Oktober 2027
Dapur Marta
Siapa pun yang pernah menerima tamu tahu rasanya menjadi Marta. Air belum mendidih, gorengan belum matang, gelas kurang satu. Sementara ada anggota rumah yang enak saja duduk mengobrol dengan tamu. Rasanya ingin protes.
Kemarin kita mendengar perumpamaan orang Samaria: pergilah, perbuatlah demikian. Hari ini seolah dibalik: berhentilah, duduklah, dengarkanlah. Bertentangan? Tidak. Keduanya justru pasangan. Melayani tanpa mendengarkan lama-lama menjadi sibuk yang gusar, seperti Marta yang akhirnya menyalahkan adiknya, bahkan menyalahkan Tuhan: tidakkah Engkau peduli? Mendengarkan itulah yang menjaga pelayanan tetap jernih.
Yesus tidak menegur kesibukan Marta. Ia menegur kuatirnya. Kesibukan itu baik, tetapi kesibukan yang kehilangan pusat mudah berubah menjadi kegelisahan. Banyak perkara menyita hati, padahal hanya satu yang perlu. Duduk dekat kaki Tuhan bukan kemalasan, melainkan sumber. Dari situ segala pelayanan mengalir.
Yunus pun begitu. Kemarin kita meninggalkannya berdoa dari dalam perut ikan. Sesudah berdoa itulah ia sanggup berjalan mengelilingi Niniwe, kota yang luasnya tiga hari perjalanan, dan seluruh kota bertobat. Doa dulu, karya kemudian. Urutannya jangan ditukar.
Hari ini, sebelum tangan kita sibuk, sudahkah telinga kita duduk sebentar di dekat kaki-Nya?
Tuhan, di tengah dapur kesibukanku, sediakanlah sudut hening untuk mendengarkan Engkau. Amin.