Senin, 4 Oktober 2027
Turun dari Kuda
Di jalan raya, kita semua pernah menjadi imam dan orang Lewi. Ada kecelakaan kecil di pinggir jalan, kita melambat, menoleh, lalu menambah gas lagi. Alasan selalu tersedia: buru-buru, takut repot, pasti sudah ada yang menolong.
Bacaan hari ini mempertemukan dua orang yang sama-sama tahu kehendak Allah. Yunus tahu, lalu membeli tiket kapal ke arah sebaliknya. Ahli Taurat tahu, bahkan hafal rumusannya, lalu mencari celah: siapakah sesamaku? Pengetahuan mereka utuh. Kakinya yang tidak bergerak.
Orang Samaria itu justru sebaliknya. Ia bukan ahli kitab. Tetapi ia melihat, tergerak hatinya, mendekat, membalut, menaikkan ke keledainya, merawat. Enam kata kerja beruntun. Kasih memang kata kerja, bukan kata benda.
Hari ini Gereja mengenang Fransiskus dari Assisi. Titik balik hidupnya bukan saat ia berkhotbah kepada burung-burung, melainkan saat ia turun dari kudanya dan memeluk seorang kusta yang tadinya membuatnya jijik. Ia berhenti. Ia mendekat. Dari pelukan itu lahir seorang kudus.
Pertanyaan ahli Taurat itu dibalik Yesus: bukan siapa sesamaku, melainkan aku menjadi sesama bagi siapa. Hari ini, untuk siapa kita mau turun dan berhenti?
Tuhan, gerakkanlah kakiku mendekati mereka yang tergeletak di pinggir jalan hidupku. Amin.