‹ Semua renungan

Minggu, 3 Oktober 2027

Tulang dari Tulangku

Di ruang tunggu rumah sakit, pemandangan yang paling menggetarkan bukan alat-alat canggih. Melainkan seorang kakek yang menyuapi istrinya, pelan-pelan, sesendok demi sesendok. Tidak ada kata-kata romantis. Hanya tangan yang gemetar dan kesetiaan yang tidak gemetar. Empat puluh tahun lebih mereka bersama, dan janji yang dulu diucapkan di depan altar itu masih terus bekerja.

Bacaan pertama hari ini membawa kita ke halaman paling awal Kitab Suci. Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Kalimat itu menarik. Dalam kisah penciptaan, semuanya disebut baik. Terang itu baik. Laut itu baik. Hanya satu hal yang disebut tidak baik: kesendirian. Lalu Allah membangun perempuan dari rusuk manusia itu. Bukan dari kepala supaya memerintah, bukan dari kaki supaya diinjak, melainkan dari sisi. Dari dekat jantung. Supaya berdampingan.

Minggu lalu kita mendengar Yesus memakai bahasa keras tentang tangan yang menyesatkan. Hari ini yang disorot kekerasan yang lain: ketegaran hati. Orang Farisi datang membawa soal perceraian. Mereka bertanya tentang batas: sampai mana boleh? Yesus menjawab dengan arah yang lain sama sekali. Ia tidak bicara tentang pintu keluar, Ia bicara tentang rancangan awal. Apa yang dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia. Pernikahan bukan kontrak yang dicari celahnya, melainkan karya Allah yang dijaga.

Mudah? Tentu tidak. Siapa pun yang pernah hidup serumah puluhan tahun tahu bahwa satu daging itu sering berarti satu kesabaran, satu pengampunan, satu keputusan untuk tinggal ketika pergi terasa lebih ringan. Justru di situ bacaan kedua menghibur. Yesus tidak malu menyebut kita saudara. Ia masuk ke dalam kerapuhan manusia, mengalami penderitaan, mencicipi maut. Kesetiaan yang diminta dari kita sudah lebih dulu dijalani-Nya.

Lalu Markus menutup dengan adegan yang tampak seperti tempelan: orang membawa anak-anak kecil, murid-murid mengusir, Yesus marah. Tetapi ini bukan tempelan. Ini kuncinya. Kerajaan Allah diterima seperti anak kecil menerima: dengan tangan kosong, tanpa jasa, tanpa syarat. Rumah tangga pun begitu. Ia bertahan bukan karena dua orang kuat, melainkan karena dua orang yang sama-sama tahu dirinya lemah dan sama-sama mau menerima rahmat.

Pekan ini, tengoklah orang yang Allah persatukan dengan hidup kita. Suami, istri, keluarga, komunitas. Sudahkah kita menjaganya seperti menjaga tulang dari tulang kita sendiri?

Tuhan, Engkau menciptakan kami untuk tidak sendirian. Ajarilah kami setia memelihara ikatan yang Kaupersatukan, dan menerima rahmat-Mu seperti anak kecil. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →