‹ Semua renungan

Minggu, 26 September 2027

Bukan Kelompok Kita

Manusia cepat sekali membentuk pagar. Beda warna kaos waktu pertandingan, beda seragam sekolah, beda lingkungan, beda kelompok doa. Dalam hitungan hari, kata "kita" dan "mereka" sudah berdiri tegak. Dan diam-diam kebaikan pun ikut dikapling: kalau bukan dari kelompok kita, rasanya kurang sah.

Yohanes, murid yang dekat dengan Yesus itu, pernah terjebak di situ. "Guru, kami lihat seorang yang bukan pengikut kita mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita." Perhatikan kata-katanya: bukan pengikut kita. Bukan "pengikut-Mu". Tanpa sadar Yohanes sudah mengganti pusatnya, dari Yesus menjadi kelompoknya sendiri.

Jawaban Yesus melebar, bukan menyempit: "Jangan kamu cegah dia. Barangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita." Bahkan secangkir air yang diberikan kepada murid-Nya tidak akan kehilangan upah. Kerajaan Allah rupanya tidak mengenal hak monopoli.

Kisah serupa sudah terjadi jauh sebelumnya. Ketika Roh Allah hinggap pada tujuh puluh tua-tua, dua orang bernama Eldad dan Medad ikut kepenuhan Roh, padahal mereka tidak hadir di kemah pertemuan. Yosua muda meminta Musa mencegah mereka. Jawaban Musa termasuk kalimat terindah Perjanjian Lama: "Ah, kalau seluruh umat Tuhan menjadi nabi!" Roh berhembus ke mana Ia mau, tanpa meminta izin panitia. Ia bahkan tidak memeriksa daftar hadir.

Dari mana datangnya nafsu mencegah itu? Akarnya sama dengan yang ditelanjangi Yakobus dalam bacaan kedua: keserakahan. Orang kaya yang dikecamnya menahan upah para buruh, menimbun apa yang seharusnya mengalir. Yohanes dan Yosua melakukan hal yang mirip di wilayah rohani: menahan rahmat, menganggap karunia bersama sebagai milik kelompok. Padahal rahmat itu seperti udara: dibagi seluas apa pun, ia tidak pernah berkurang.

Minggu lalu para murid bertengkar tentang siapa yang terbesar. Minggu ini mereka melarang orang luar berbuat baik. Dua gejala dari satu penyakit: hati yang sempit. Dan obatnya satu: memandang seperti Yesus memandang, yang lebih peduli setan terusir daripada siapa yang mengusirnya, lebih peduli orang tertolong daripada bendera penolongnya.

Jujur saja: pernahkah kita diam-diam kesal melihat kebaikan tumbuh subur di luar pagar kita, di paroki tetangga, di kelompok lain, bahkan di luar Gereja? Kalau pernah, hari ini Yesus menyapa kita dengan lembut: jangan cegah.

Tuhan Yesus, luaskanlah hatiku yang sempit. Ajarilah aku bersukacita atas setiap kebaikan, dari tangan siapa pun ia datang. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →