Minggu, 19 September 2027
Bertengkar di Tengah Jalan
Ada satu adegan yang selalu berulang di setiap acara keluarga besar: berebut tempat. Anak-anak berebut kursi paling depan, orang dewasa berebut duduk dekat orang penting. Dan bila ditanya sedang apa, semua serentak menjawab: tidak apa-apa.
Para murid persis seperti itu. Di tengah jalan menuju Kapernaum mereka bertengkar tentang siapa yang terbesar. Sesampai di rumah, Yesus bertanya: "Apa yang kamu perbincangkan tadi di tengah jalan?" Mereka diam. Diam yang jujur, sebab hati kecil mereka tahu ada yang memalukan dari pertengkaran itu.
Yang membuatnya makin getir, pertengkaran itu terjadi tepat setelah Yesus berbicara tentang diri-Nya yang akan diserahkan, dibunuh, dan bangkit. Guru berbicara tentang menyerahkan nyawa; murid-murid sibuk membagi kursi. Mereka tidak mengerti, dan segan bertanya.
Yakobus dalam bacaan kedua membedah akarnya: dari manakah sengketa dan pertengkaran di antara kamu? Dari hawa nafsu yang saling berjuang di dalam dirimu. Iri hati dan sikap mementingkan diri, katanya, melahirkan kekacauan dan segala macam perbuatan jahat. Kitab Kebijaksanaan bahkan memperlihatkan ujung jalan itu: orang benar dihadang dan dihukum mati, semata-mata karena kehadirannya mengganggu.
Hikmat yang dari atas berbeda wataknya: murni, pendamai, peramah, penuh belas kasihan, tidak memihak, tidak munafik. Bukan hikmat untuk naik, melainkan hikmat untuk turun. Ia tidak berteriak di panggung; ia bekerja seperti benih damai yang ditaburkan pelan-pelan, dan buahnya adalah kebenaran.
Lalu Yesus membuat peragaan yang tidak terlupakan. Ia duduk, memanggil kedua belas murid, dan berkata: yang ingin menjadi terdahulu hendaklah menjadi yang terakhir dan pelayan dari semuanya. Kemudian Ia mengambil seorang anak kecil, menempatkannya di tengah mereka, dan memeluknya. Anak kecil pada zaman itu bukan lambang kepolosan yang menggemaskan, melainkan sosok tanpa hak, tanpa suara, tanpa daya tawar. Ia tidak bisa memberi jabatan, proyek, atau nama baik. Menyambut yang seperti itu, kata Yesus, berarti menyambut Aku.
Ukuran kebesaran pun dibalik total. Bukan berapa orang melayani kita, melainkan berapa orang kita layani. Bukan seberapa dekat kita dengan yang berkuasa, melainkan seberapa dekat kita dengan yang tidak bisa membalas apa-apa.
Kalau sore ini Yesus bertanya, "Apa yang kamu perbincangkan tadi di tengah jalan?", kira-kira kita akan menjawab, atau ikut terdiam?
Tuhan Yesus, sembuhkanlah aku dari lapar akan tempat terdepan. Ajarilah aku turun, melayani, dan memeluk mereka yang tidak bisa membalas. Amin.