Sabtu, 18 September 2027
Penabur yang Boros
Petani mana pun tahu, benih itu mahal. Sebelum menyemai, tanah dipilih, diolah, diairi. Tidak ada petani yang sengaja menghamburkan benih ke jalan setapak atau ke atas batu.
Penabur dalam perumpamaan Yesus justru begitu. Ia menabur ke mana-mana: pinggir jalan, tanah berbatu, semak duri, tanah baik. Boros sekali. Tetapi justru di situ kabar baiknya: Allah tidak menyeleksi hati sebelum menaburkan firman-Nya. Semua kebagian benih yang sama. Tidak ada hati yang sengaja dilewati.
Yang membedakan hasilnya adalah tanah. Ada hati sekeras jalan, terlalu sering dilintasi banyak hal sampai tidak bisa ditembus. Ada yang berbatu: cepat bersemangat, cepat pula layu ketika dicoba. Ada yang subur tetapi penuh semak, dan Yesus menyebut nama semak-semak itu satu per satu: kekuatiran, kekayaan, kenikmatan hidup. Benih tidak mati di sana. Ia hanya terhimpit, sampai tidak sempat berbuah matang.
Kabar baiknya lagi: tanah bukan nasib. Tanah bisa diolah. Batu bisa disingkirkan, semak bisa dicabut, tanah keras bisa dicangkul. Musim tanam firman berlangsung setiap hari, dan penabur yang boros itu akan lewat lagi besok pagi.
Semak apa yang paling rimbun menghimpit benih di hati kita akhir-akhir ini?
Tuhan, gemburkanlah tanah hatiku, agar firman-Mu berakar, bertumbuh, dan berbuah dalam ketekunan. Amin.