Rabu, 15 September 2027
Ibu yang Tetap Berdiri
Di lorong rumah sakit selalu ada pemandangan yang sama: seorang ibu menunggui anaknya yang sakit. Ia tidak bisa menggantikan sakit itu, tidak bisa mempercepat kesembuhan. Yang ia bisa hanya satu: tinggal di situ, tidak pergi.
Sehari sesudah pesta Salib Suci, Gereja memandang perempuan yang berdiri di bawah salib itu. Madah tua Gereja menyebutnya Stabat Mater: sang ibu berdiri. Ia tidak pingsan, tidak histeris, tidak melarikan diri. Ia berdiri, dan membiarkan pedang dukacita menembus jiwanya, seperti dinubuatkan Simeon dahulu.
Injil hari ini memotret kebalikannya. Yesus menyindir angkatan-Nya seperti anak-anak di pasar: ditiup seruling tidak menari, dinyanyikan kidung duka tidak menangis. Yohanes datang berpuasa, dikatai kerasukan. Anak Manusia datang makan dan minum, dikatai pelahap. Itulah hati yang menolak tersentuh, yang selalu punya alasan untuk tidak terlibat.
Maria adalah lawan dari hati semacam itu. Ia membiarkan diri disentuh sampai tertembus. Dukacitanya bukan tanda kalah, melainkan tanda kasih yang tidak menarik diri.
Kita sendiri berada di pihak mana: penonton di pasar, atau ibu yang tetap berdiri?
Bunda berdukacita, ajarilah aku setia berdiri di dekat mereka yang menderita, seperti engkau berdiri di kaki salib Putramu. Amin.