Selasa, 14 September 2027
Memandang Luka
Naluri pertama kita di depan luka adalah berpaling. Anak kecil menutup mata saat disuntik. Orang dewasa membuang muka dari foto korban bencana. Yang menyakitkan memang lebih mudah dihindari daripada dipandang.
Maka aneh sekali resep Allah di padang gurun. Bangsa yang dipagut ular tidak disuruh lari, melainkan memandang. Musa membuat ular tembaga di atas tiang, dan setiap orang yang terpagut, jika memandangnya, tetap hidup. Obatnya serupa dengan lukanya. Kesembuhan datang justru ketika orang berani menatap apa yang membinasakannya.
Yesus mengambil gambar itu untuk diri-Nya: "Sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan." Di kayu salib, Allah memasang di hadapan dunia akibat penuh dari dosa manusia, sekaligus kasih yang lebih besar dari dosa itu. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini.
Hari ini Gereja merayakan Salib Suci. Alat hukuman paling hina diarak sebagai tanda kemenangan. Kita tidak menyembah penderitaan; kita memandang Dia yang mengubah penderitaan menjadi jalan hidup.
Luka mana dalam hidup kita yang selama ini kita hindari, padahal justru harus dipandang bersama Dia?
Yesus yang tersalib, ketika hidup memagutku, arahkanlah mataku kepada-Mu, sumber keselamatanku. Amin.