Minggu, 12 September 2027
Kata Orang, Kata Kamu
Kita hidup di zaman ketika "kata orang" bisa dihitung. Berapa yang menyukai, berapa yang berkomentar, berapa bintang penilaian. Banyak orang bangun tidur dan hal pertama yang dicarinya adalah kata orang tentang dirinya.
Di jalan menuju Kaisarea Filipi, Yesus juga memulai dengan semacam jajak pendapat: "Kata orang, siapakah Aku ini?" Jawaban terkumpul cepat: Yohanes Pembaptis, Elia, seorang nabi. Semuanya terhormat. Semuanya keliru.
Lalu pertanyaan itu berbelok dan menikam: "Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?" Pertanyaan kedua ini tidak bisa dijawab dengan mengutip orang lain. Tidak bisa diwakilkan kepada hafalan katekismus atau kepada iman orang tua. Petrus menjawab: "Engkau adalah Mesias!"
Jawaban Petrus benar, tetapi bayangannya tentang Mesias masih keliru. Begitu Yesus berbicara soal menderita, ditolak, dan dibunuh, Petrus menarik-Nya ke samping dan menegor-Nya. Ia mau Mesias yang menang tanpa luka. Maka keluarlah teguran paling keras dalam Injil: "Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah."
Bacaan pertama sudah melukis Mesias yang sebenarnya: hamba yang memberikan punggungnya kepada orang yang memukul, yang tidak menyembunyikan muka ketika diludahi, dan tetap teguh karena Tuhan menolongnya. Jalan Allah memang lewat situ. Siapa mau mengikut Dia harus menyangkal diri, memikul salibnya, dan berani kehilangan nyawa justru untuk menyelamatkannya.
Di sinilah Yakobus menyambung. Minggu lalu ia menegur jemaat yang memandang muka, menghormati yang bercincin emas dan merendahkan yang miskin. Hari ini ia melangkah lebih jauh: iman tanpa perbuatan pada hakikatnya mati. Berkata "selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang" kepada orang lapar, tanpa memberi apa-apa, itu bukan iman. Itu basa-basi rohani.
Artinya, pertanyaan Yesus di Kaisarea Filipi tidak pernah selesai dijawab dengan mulut. Jawaban sesungguhnya ditulis dengan hidup. Pengakuan "Engkau Mesias" baru terbaca ketika ada tangan yang memberi, punggung yang mau memikul, dan kaki yang tetap berjalan di belakang-Nya saat jalan menanjak.
Coba bayangkan orang-orang di sekitar kita membaca hidup kita sepekan terakhir: ucapan kita, belanja kita, cara kita memperlakukan yang lemah. Dari semua itu mereka akan menyimpulkan Yesus itu siapa bagi kita. Kira-kira kesimpulan mereka seperti apa?
Tuhan Yesus, Engkaulah Mesias, bukan menurut kata orang, melainkan menurut imanku sendiri. Berilah aku keberanian menulis jawaban itu dengan perbuatan, bukan hanya dengan bibir. Amin.