‹ Semua renungan

Jumat, 10 September 2027

Balok di Mata

Mata manusia bisa melihat hampir segalanya: gunung yang jauh, huruf yang kecil, debu di wajah orang. Satu-satunya yang tidak pernah bisa dilihatnya adalah dirinya sendiri. Untuk itu ia butuh cermin.

Kemarin kita mendengar soal takaran: ukuran yang kamu pakai akan diukurkan kepadamu. Hari ini Yesus melanjutkan dengan gambar yang nyaris lucu: orang yang sibuk mengeluarkan selumbar dari mata saudaranya, sementara di matanya sendiri terpasang balok. Bayangkan orang berjalan dengan balok kayu di wajah sambil membawa penjepit kecil.

Kita tertawa, lalu tersindir. Kesalahan orang lain memang selalu tampak tajam, sedetail selumbar. Kesalahan sendiri buram, sebab mata tidak bisa memandang dirinya. Maka semakin rajin seseorang menghakimi, biasanya semakin jarang ia bercermin.

Paulus dalam bacaan pertama adalah contoh orang yang akhirnya melihat baloknya. "Aku yang tadinya seorang penghujat dan seorang penganiaya dan seorang ganas," tulisnya kepada Timotius, "telah dikasihani-Nya." Ia tidak berhenti pada rasa malu. Balok yang diakui justru menjadi bahan kesaksian tentang belas kasih Allah.

Siapa yang kita izinkan menjadi cermin kita: pasangan, sahabat, pengakuan dosa? Tanpa cermin, balok bisa terasa seperti hiasan.

Tuhan, tunjukkanlah balok di mataku sebelum aku sibuk dengan selumbar saudaraku. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →