Kamis, 9 September 2027
Pakaian yang Dikenakan Hati
Setiap pagi kita berdiri di depan lemari dan memilih pakaian. Menyesuaikan cuaca, acara, dan orang yang akan kita temui. Tidak ada yang berangkat kerja dengan baju tidur.
Paulus memakai bahasa lemari itu untuk urusan hati: "Kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran." Lalu di atas semuanya, katanya, kenakanlah kasih, pengikat yang mempersatukan. Seperti ikat pinggang yang merapikan seluruh pakaian.
Kata "kenakanlah" itu penting. Keutamaan bukan bakat bawaan yang dimiliki sebagian orang sejak lahir. Ia dikenakan, dipilih, dipakai ulang setiap hari. Ada hari ketika sabar terasa seperti kemeja yang sesak. Tetap dikenakan juga. Lama-lama ia melonggar, mengikuti bentuk pemakainya.
Injil hari ini menyodorkan pakaian yang paling tidak nyaman di seluruh lemari iman: "Kasihilah musuhmu. Berdoalah bagi orang yang mencaci kamu." Mengasihi orang yang mengasihi kita, kata Yesus, itu belum jasa; orang berdosa pun begitu. Ukuran anak-anak Allah adalah murah hati seperti Bapa, yang baik bahkan kepada orang yang tidak tahu berterima kasih. Upahnya pun sepadan: takaran yang dipadatkan, digoncang, dan tumpah ke luar.
Pagi ini badan kita sudah berpakaian rapi. Hati kita mengenakan apa?
Tuhan, kenakanlah padaku belas kasihan-Mu, agar aku pantas disebut anak Bapa yang murah hati. Amin.