‹ Semua renungan

Kamis, 26 Agustus 2027

Ronda

Di banyak kampung masih ada tradisi ronda. Bergiliran, bapak-bapak berjaga sampai larut, ditemani kopi dan kenthongan. Yang menarik, ronda yang baik justru terasa membosankan: tidak terjadi apa-apa. Tetapi kampung bisa tidur nyenyak persis karena ada yang rela tidak tidur. Kesetiaan yang sunyi itu bentuk kasih kepada tetangga.

“Berjaga-jagalah,” kata Yesus, “sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang.” Lalu Ia menjelaskan bentuk berjaga yang dimaksud, dan ternyata bukan menatap langit dengan tegang. Hamba yang berjaga adalah yang memberikan orang-orang makanan pada waktunya: mengerjakan tugas hariannya dengan setia, sehingga kapan pun tuannya pulang, ia sedang didapati bekerja.

Berjaga, dalam kamus Yesus, bukan panik menghitung hari kiamat. Berjaga adalah kesetiaan yang rutin: suami istri yang saling merawat, pekerja yang jujur, doa malam yang tidak bolong. Hal-hal yang tampak biasa, seperti ronda yang sepi.

Bahayanya justru pada kalimat “tuanku tidak datang-datang”. Dari situ hamba mulai kendur, lalu semena-mena. Kelalaian jarang datang mendadak; ia menyusup lewat penundaan-penundaan kecil. Besok saja berdoa, besok saja berdamai, besok saja berbenah; dan besok itu tidak kunjung tiba.

Kalau Tuhan datang malam ini, sedang mengerjakan apakah aku?

Tuhan, jadikanlah aku hamba yang setia pada tugas hari ini, supaya kedatangan-Mu kusambut dengan tenang. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →