‹ Semua renungan

Rabu, 18 Agustus 2027

Semak Duri Naik Takhta

Dongeng Yotam dalam bacaan pertama layak dibaca ulang setiap musim pemilihan. Pohon-pohon mencari raja. Zaitun menolak: masakan aku meninggalkan minyakku yang menghormati Allah dan manusia? Pohon ara menolak: masakan aku meninggalkan manisan dan buahku yang baik? Pohon anggur pun sama. Mereka yang berbuah terlalu sibuk berbuah untuk berebut takhta.

Yang bersedia justru semak duri: tidak berbuah, tidak meneduhkan, gampang terbakar dan membakar. Ia bahkan langsung mengancam: berlindunglah di bawah naunganku, atau api akan keluar memakan kamu. Naungan semak duri; coba bayangkan berteduh di bawahnya. Bukan teduh yang didapat, melainkan luka gores.

Yotam menyindir Abimelekh, yang merebut kekuasaan dengan membantai saudara-saudaranya. Tetapi sindiran itu melintasi zaman: sering kali yang paling berambisi memimpin justru yang paling sedikit buahnya, sementara yang berbuah enggan tampil. Kekuasaan memikat justru mereka yang tidak punya apa-apa untuk dibagikan.

Kemarin kita mendengar Yesus berkata bahwa yang terdahulu akan menjadi yang terakhir. Hari ini perumpamaan pekerja kebun anggur menegaskannya: di Kerajaan Allah, ukurannya bukan posisi dan lama pengabdian, melainkan kemurahan hati Sang Pemilik.

Maka pertanyaannya bukan “jabatan apa yang bisa kuraih”, melainkan “buah apa yang bisa kuberikan dari tempatku sekarang”.

Tuhan, jauhkanlah aku dari haus kuasa, dan buatlah hidupku berbuah bagi sesama. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →