Selasa, 17 Agustus 2027
Pahlawan di Tempat Sembunyi
Setiap Agustus, di kampung-kampung, anak-anak berlatih baris untuk upacara. Ada yang ditunjuk menjadi pengibar bendera, lalu gugup berhari-hari. Tangannya dingin saat gladi bersih. Tetapi pada pagi tujuh belasan, bendera itu naik juga, dan ibunya di barisan penonton diam-diam menyeka mata. Yang gugup ternyata bisa menyelesaikan tugasnya dengan baik.
Kisah Gideon dimulai dengan kegugupan serupa, bahkan lebih. Ia mengirik gandum di tempat pemerasan anggur, tempat yang salah untuk pekerjaan itu, karena bersembunyi dari orang Midian. Kepada orang yang sedang bersembunyi itulah Malaikat Tuhan menyapa: “Tuhan menyertai engkau, ya pahlawan yang gagah berani.”
Hampir terdengar seperti sindiran. Pahlawan kok mengumpet. Gideon sendiri protes: kalau Tuhan menyertai kami, mengapa semua ini menimpa kami? Kaumku paling kecil, aku pun yang paling muda. Semua alasan sudah ia siapkan. Tetapi Tuhan tidak menarik kata-kata-Nya: “Pergilah dengan kekuatanmu ini. Bukankah Aku mengutus engkau!”
Allah rupanya memanggil orang bukan berdasarkan siapa mereka hari ini, melainkan siapa mereka di mata-Nya. Ia menyapa yang gemetar sebagai pemberani, dan sapaan itu perlahan-lahan menjadi kenyataan. Gideon yang bersembunyi itu akhirnya sungguh memimpin pembebasan bangsanya.
Hari ini bangsa kita merayakan kemerdekaan. Kalau dipikir, republik ini pun lahir dari bangsa yang di atas kertas tidak diunggulkan: bekas jajahan, miskin, baru belajar bersatu. Para pendiri bangsa bukan raksasa; mereka orang-orang biasa yang berani mempercayai panggilan zamannya. Seperti Gideon, mereka melangkah dengan kekuatan seadanya, dan Tuhan mencukupkan sisanya. Bersyukur atas kemerdekaan berarti mengakui bahwa di balik kerja keras manusia ada penyelenggaraan Allah. Iman dan kebangsaan tidak saling bersaing; keduanya sama-sama bentuk syukur.
Injil hari ini melengkapinya: “Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin.” Kalimat itu berlaku untuk keselamatan, dan gemanya terasa juga dalam sejarah bangsa-bangsa.
Tugas kita sekarang bukan lagi mengangkat senjata, melainkan merawat: kejujuran di tempat kerja, kepedulian pada tetangga yang susah, keberanian menolak korupsi sekecil apa pun. Mengisi kemerdekaan artinya keluar dari tempat pemerasan anggur kita masing-masing, tempat kita biasa bersembunyi dengan alasan “saya hanya orang kecil”. Padahal justru lewat orang kecil yang bersedia, Allah biasa mengerjakan hal-hal besar.
Sebab sapaan itu ditujukan juga kepada kita: pergilah dengan kekuatanmu ini. Bukankah Aku mengutus engkau?
Tuhan, terima kasih atas tanah air kami. Jadikanlah kami warga yang jujur, peduli, dan berani, demi kemuliaan nama-Mu. Amin.