Rabu, 11 Agustus 2027
Melihat, Tanpa Masuk
Ada orang yang menanam pohon mangga sambil tahu bahwa bukan dia yang akan memanjatnya. Anak cucunyalah yang kelak berteduh dan memetik buahnya. Ia menanam bukan untuk dirinya, dan justru itu yang membuat tanamannya bernilai.
Musa mengalami versi paling mengharukan dari hal itu. Empat puluh tahun ia memimpin bangsa yang keras kepala menuju tanah terjanji. Di puncak gunung Nebo, Tuhan memperlihatkan seluruh negeri itu kepadanya, lalu berkata: engkau boleh melihatnya, tetapi tidak akan menyeberang ke sana. Musa wafat di ambang pintu cita-citanya. Yang masuk adalah Yosua, generasi berikutnya.
Kelihatannya pahit. Tetapi mungkin di situlah kemurnian pelayanan diuji: sanggupkah kita bekerja untuk sesuatu yang selesainya tidak kita nikmati sendiri?
Santa Klara, yang kita kenang hari ini, meninggalkan rumah bangsawannya untuk hidup miskin mengikuti jejak Fransiskus. Ia tidak pernah melihat betapa luas keluarga rohaninya tersebar di dunia sekarang. Ia hanya menanam. Benihnya kecil: satu komunitas doa yang sederhana di San Damiano.
Orangtua, guru, katekis, pengurus lingkungan: banyak dari kita sedang menanam pohon yang buahnya untuk orang lain. Jangan berkecil hati. Di mata Tuhan, penabur dan penuai sama-sama bersukacita. Yang dihitung bukan hasil di tangan kita, melainkan kesetiaan di hati kita.
Tuhan, berilah aku hati yang rela menanam tanpa menuntut ikut memanen. Amin.