‹ Semua renungan

Selasa, 10 Agustus 2027

Harta yang Ditunjukkan Laurensius

Petani tidak pernah menangisi benih yang ditanam. Padahal kalau dipikir, menanam itu membuang: gabah yang bisa dimakan justru dibenamkan ke lumpur. Tetapi petani tahu rahasianya. Yang ditabur tidak hilang. Ia sedang berubah wujud menjadi panen.

Yesus memakai logika sawah itu untuk hidup-Nya sendiri: jika biji gandum tidak jatuh ke tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; jika mati, ia menghasilkan banyak buah. Kalimat ini diucapkan menjelang salib. Ia sendirilah biji gandum yang pertama, dan panenan dari kematian-Nya adalah keselamatan kita semua.

Hari ini Gereja mengenang Santo Laurensius, diakon Roma abad ketiga. Ketika penguasa menuntut harta Gereja diserahkan, Laurensius mengumpulkan para miskin, yatim, dan orang sakit, lalu berkata: inilah harta Gereja. Ia dihukum mati dibakar. Biji gandum itu jatuh, dan buahnya masih kita tuai: namanya dikenang hampir dua ribu tahun, bukan karena menyimpan, melainkan karena memberi. Api boleh menghanguskan tubuhnya, tetapi tidak buah hidupnya.

Paulus merumuskannya sederhana: orang yang menabur sedikit akan menuai sedikit, dan Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. Sebab Ia sendiri penabur yang tidak pernah berhitung.

Apa yang hari ini kita genggam terlalu erat, padahal ia hanya akan berbuah kalau dilepas?

Tuhan, ajarilah aku menabur dengan sukacita, seperti Laurensius menabur hidupnya. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →