Senin, 9 Agustus 2027
Kamu Pun Dahulu Orang Asing
Setiap perantau ingat rasanya minggu-minggu pertama di kota orang. Logat ditertawakan. Arah jalan belum hafal. Makan pun sendirian. Pada saat seperti itu, satu sapaan ramah nilainya melebihi seribu basa-basi.
Musa mengingatkan Israel dengan alasan yang sulit dibantah: kasihilah orang asing, sebab kamu pun dahulu orang asing di tanah Mesir. Allah tidak menyuruh mereka berbelas kasihan dari posisi orang kuat, melainkan dari ingatan sebagai orang lemah. Ingatan akan derita sendiri adalah sekolah belas kasih yang paling jujur.
Dan lihatlah siapa Allah yang mereka sembah: Allah segala allah yang tidak memandang bulu, tidak menerima suap, yang membela hak anak yatim dan janda, yang memberi makanan dan pakaian kepada pendatang. Kebesaran-Nya diukur justru dari keberpihakan-Nya pada yang kecil.
Dalam Injil, Yesus membayar bea Bait Allah meski sebenarnya bebas, supaya tidak menjadi batu sandungan. Orang merdeka yang rela menahan haknya demi orang lain: itu bahasa kasih yang sama.
Di sekitar kita selalu ada “orang asing”: pendatang baru, anak kos, pekerja dari jauh. Sudahkah mereka merasakan Allah yang ramah lewat kita?
Tuhan, jangan biarkan aku lupa bahwa aku pun pernah ditolong sebagai orang asing. Amin.