‹ Semua renungan

Minggu, 8 Agustus 2027

Bangun, Makanlah

Orang yang sangat lelah jarang membutuhkan nasihat. Ia membutuhkan makan dan tidur. Ibu-ibu kita memahami ini secara naluriah: anak pulang dengan wajah kusut, kalimat pertamanya bukan pertanyaan panjang, melainkan “makan dulu”.

Elia, nabi besar itu, sampai pada titik terendahnya. Setelah kemenangan besar, ia justru diburu, lari ke padang gurun, duduk di bawah pohon arar, dan minta mati. “Cukuplah itu! Ambillah nyawaku.” Itulah doa paling gelap dalam hidupnya. Nabi yang baru saja menang justru merasa habis.

Perhatikan jawaban Allah. Tidak ada teguran. Tidak ada khotbah tentang semangat. Malaikat datang menyentuhnya dan berkata, “Bangunlah, makanlah!” Di sebelah kepalanya ada roti bakar dan kendi air. Elia makan, tidur lagi, dibangunkan lagi, makan lagi. Baru sesudah itu ia kuat berjalan empat puluh hari menuju gunung Allah. Allah merawat jiwa yang remuk mulai dari tubuhnya. Roti dulu, tugas kemudian. Tidur pun ternyata bisa menjadi bagian dari penyembuhan yang diberikan Allah.

Minggu lalu kita mendengar Yesus menyatakan diri sebagai roti hidup. Hari ini orang Yahudi bersungut-sungut: bukankah Ia anak Yusuf yang ibu bapanya kita kenal? Mereka tersandung pada yang biasa. Roti dari surga kok bertetangga dengan kita? Padahal justru itulah cara Allah: hadir lewat yang sederhana, seperti roti bakar di sisi kepala orang yang putus asa, seperti sepotong hosti di tangan kita. Yang tampak kecil itu memuat Dia yang mahabesar.

Kata Latin untuk teman, companio, tersusun dari cum dan panis: orang yang berbagi roti. Yesus menjadi teman dalam arti paling harfiah. Ia bukan hanya memberi roti; Ia menjadikan diri-Nya roti yang dibagikan, “yang Kuberikan untuk hidup dunia”.

Maka bacaan kedua menjadi masuk akal: buanglah kepahitan, kegeraman, pertikaian; hiduplah dalam kasih dan saling mengampuni. Orang yang sudah diberi makan oleh Allah semestinya tidak tega membiarkan orang lain lapar, entah lapar nasi, entah lapar dimaafkan. Meja Tuhan selalu meluas ke meja-meja kita.

Barangkali ada di antara kita yang sedang seperti Elia: sudah berbuat banyak, lalu tumbang, dan malu mengakuinya. Dengarlah sentuhan lembut itu: bangunlah, makanlah. Datanglah ke meja-Nya. Perjalananmu masih jauh, dan Ia tidak mau engkau menempuhnya dengan jiwa yang kosong.

Siapa di sekitar kita yang pekan ini perlu dibawakan “roti bakar dan kendi air”?

Tuhan Yesus, Roti Hidup, kuatkanlah yang letih, dan jadikanlah aku teman seperjalanan yang mau berbagi roti. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →