‹ Semua renungan

Jumat, 6 Agustus 2027

Putih yang Tak Terkejar Deterjen

Markus memakai bahasa rumah tangga untuk melukiskan peristiwa surgawi. Pakaian Yesus, tulisnya, sangat putih berkilat-kilat, sampai tidak ada tukang kelantang di dunia yang sanggup memutihkan seperti itu. Kita yang biasa mencuci paham maksudnya. Ada noda yang tidak mau hilang, dan ada putih yang tidak bisa dikejar deterjen mana pun.

Di atas gunung itu, tiga murid melihat sekilas siapa Yesus sesungguhnya. Bukan sekadar guru dari Nazaret, melainkan Anak terkasih yang bercahaya dari dalam. Musa dan Elia hadir; Taurat dan para nabi seakan datang memberi hormat. Lalu suara dari awan: “Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia.”

Petrus ingin mendirikan tiga kemah. Siapa yang tidak betah di puncak yang terang? Tetapi kemuliaan itu hanya singgah. Mereka harus turun gunung, kembali ke jalan yang menanjak menuju Yerusalem, menuju salib.

Transfigurasi bukan pelarian dari penderitaan, melainkan bekal menghadapinya. Sekali melihat terang, murid diminta mengingatnya saat gelap.

Kita pun diberi saat-saat gunung: doa yang hangat, retret yang menguatkan, Ekaristi yang menyentuh hati. Simpanlah baik-baik. Cahayanya akan berguna di hari yang mendung. Sebab pesan dari gunung itu tetap sama untuk kita: inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia.

Tuhan Yesus, biarlah terang-Mu kuingat justru ketika jalanku gelap. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →