Kamis, 5 Agustus 2027
Batu Karang, Batu Sandungan
Batu yang sama bisa punya dua nasib. Diletakkan di dasar, ia menjadi fondasi. Tergeletak di tengah jalan, ia membuat orang tersandung. Yang menentukan bukan batunya, melainkan letaknya.
Kemarin kita mendengar Yesus memuji iman besar seorang ibu Kanaan. Hari ini pujian itu jatuh kepada Petrus: “Engkau adalah Petrus, dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku.” Luar biasa. Nelayan Galilea diangkat menjadi fondasi.
Tetapi hanya beberapa ayat kemudian, batu karang itu berganti nama. Ketika Yesus mulai berbicara tentang salib, Petrus menarik-Nya ke samping dan menegur-Nya. Jawaban Yesus keras: “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku.” Pagi menjadi fondasi, sore menjadi sandungan. Orangnya sama. Jaraknya hanya beberapa tarikan napas.
Bedanya di satu hal. Saat mengaku “Engkau Mesias”, Petrus menerima dari Bapa. Saat menolak salib, ia memikirkan apa yang dipikirkan manusia. Batu itu berpindah letak: dari bawah kehendak Allah ke tengah jalan-Nya.
Kita pun begitu. Iman kita bisa menopang orang lain, bisa juga menghalangi jalan Tuhan, tergantung kita meletakkan diri di mana: di bawah kehendak Allah, atau di depan jalan-Nya.
Hari ini, aku sedang menjadi batu yang mana?
Tuhan, letakkanlah aku di tempat yang Kaukehendaki, dan jangan biarkan aku menghalangi jalan-Mu. Amin.