Selasa, 3 Agustus 2027
Angin Sakal
Kemarin kita mendengar lima ribu orang makan kenyang di padang. Sisa rotinya saja dua belas bakul. Malam harinya, murid-murid yang sama diombang-ambingkan gelombang di tengah danau. Dari pesta ke badai ternyata hanya berjarak beberapa jam.
Begitulah hidup beriman. Mukjizat kemarin tidak membuat kita kebal terhadap angin hari ini. Para pelaut menyebut angin sakal untuk angin yang menghantam dari depan, yang membuat perahu berjalan di tempat. Kita mengenalnya dalam bentuk lain: usaha yang jalan di tempat, doa yang serasa membentur langit-langit, hari-hari melelahkan tanpa kemajuan. Sudah mengayuh sekuat tenaga, posisi tidak berubah juga.
Justru di situ Yesus datang, berjalan di atas air yang mereka takuti. “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” Petrus sempat berani, melangkah, lalu tenggelam ketika matanya pindah dari Yesus ke angin. Yang menarik, Yesus tidak menunggu Petrus belajar berenang. Segera tangan-Nya terulur.
Kata “segera” itu melegakan. Tuhan tidak menguliahi orang yang sedang tenggelam. Ia memegang dulu, bertanya kemudian. Teguran “hai orang yang kurang percaya” baru keluar setelah Petrus aman dalam genggaman-Nya.
Angin sakal apa yang sedang menghantam perahu kita hari ini? Jangan-jangan di tengah angin itu ada Dia, sedang berjalan mendekat.
Tuhan Yesus, saat aku mulai tenggelam, ulurkanlah segera tangan-Mu. Amin.