‹ Semua renungan

Minggu, 1 Agustus 2027

Jatah Sehari

Di banyak dapur ada kebiasaan kecil yang jarang kita sadari. Ibu menakar beras secukupnya untuk hari ini. Tidak lebih. Besok, takaran itu diisi lagi. Dapur diam-diam mengajarkan sesuatu yang sering dilupakan gudang: hidup ini berjalan sehari demi sehari.

Bacaan pertama bercerita tentang umat Israel yang lapar di padang gurun. Mereka bersungut-sungut, merindukan kuali daging di Mesir. Lalu Tuhan menurunkan roti dari langit. Anehnya, roti itu hanya boleh dipungut sebanyak yang perlu untuk sehari. Ketika pertama kali melihatnya, mereka saling bertanya, “Apakah ini?” Dalam bahasa Ibrani, man hu. Dari pertanyaan polos itulah lahir kata manna. Roti dari surga ternyata bernama sebuah pertanyaan. Indah sekali: Allah memberi, manusia bertanya-tanya, dan pemberian itu tetap turun setiap pagi.

Bukankah kita juga sering berdiri di depan pemberian Allah sambil bertanya-tanya? Rezeki yang datang tidak seperti rencana. Pertolongan yang bentuknya asing. Kita mengharapkan kuali daging, yang turun malah butiran halus seperti embun. Perlu iman untuk mengakui: yang tidak kita kenali ini pun roti dari Tuhan.

Dalam Injil, orang banyak mencari Yesus sampai ke seberang danau. Yesus membaca isi hati mereka dengan jujur: kamu mencari Aku karena kamu kenyang, bukan karena kamu percaya. Mereka menginginkan mukjizat yang bisa diulang setiap hari, semacam manna model baru. Yesus menawarkan yang jauh lebih besar: “Akulah roti hidup.” Bukan roti yang habis dikunyah, melainkan Pribadi yang menyertai. Yang datang kepada-Nya tidak akan lapar lagi; yang percaya kepada-Nya tidak akan haus lagi.

Di sinilah dapur dan altar bertemu. Perut harus diisi setiap hari; jiwa juga. Kita rajin memikirkan menu makan siang, mengecek persediaan beras, menghitung belanja bulanan. Tetapi berapa lama jiwa kita dibiarkan puasa? Ada orang yang bertahun-tahun tidak menyantap firman, tidak menyambut Ekaristi, lalu heran mengapa hidupnya terasa lemas.

Paulus dalam bacaan kedua memakai bahasa lain: tanggalkan manusia lama, kenakan manusia baru. Manusia lama hidup dari menimbun. Manusia baru berani hidup dari percaya, seperti pemungut manna yang tidur nyenyak tanpa persediaan, sebab tahu besok pagi langit masih murah hati. Hidup secukupnya bukan kemiskinan, melainkan kepercayaan.

Hari ini, apa yang paling kita cari dari Tuhan: pemberian-Nya, atau diri-Nya? Keduanya baik, tetapi hanya satu yang mengenyangkan selamanya.

Tuhan Yesus, Roti Hidup, ajarilah aku hidup dari tangan-Mu sehari demi sehari. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →