Sabtu, 31 Juli 2027
Meriam yang Meleset
Hari ini Gereja mengenang Santo Ignasius dari Loyola. Hidupnya berbelok gara-gara peluru meriam yang meremukkan kakinya di Pamplona. Di ranjang pemulihan yang membosankan, ia terpaksa membaca riwayat Kristus dan para kudus. Dari situ lahir pertanyaan yang mengubah segalanya: kalau mereka bisa, mengapa aku tidak?
Bacaan pertama berbicara tentang tahun Yobel: tiap lima puluh tahun, sangkakala tanduk domba dibunyikan, dan kebebasan dimaklumkan bagi segenap penduduk negeri. Budak pulang merdeka, tanah kembali ke pemiliknya. Nama Yobel sendiri diambil dari bunyi tanduk itu. Allah rupanya menghendaki umat-Nya berkala-kala ditata ulang, dibebaskan dari genggaman yang terlalu erat pada milik.
Injil menampilkan lawannya: Herodes. Ia sebenarnya segan kepada Yohanes, sedih ketika harus memenggalnya. Tetapi ia terpenjara sumpahnya sendiri, gengsinya di depan para tamu, dan nafsu orang-orang di sekelilingnya. Raja di atas takhta, budak di dalam hati.
Ignasius menempuh jalan sebaliknya. Dari ranjang sakit ia belajar melepas satu demi satu: karier, pedang, gengsi bangsawan. Sampai lahir semboyannya, Ad maiorem Dei gloriam, demi semakin besarnya kemuliaan Allah.
Sangkakala Yobel juga berbunyi untuk kita: genggaman mana yang siap kita buka hari ini?
Tuhan, bebaskan aku dari genggamanku sendiri, demi semakin besarnya kemuliaan-Mu. Amin.